Sabtu, 08 Agustus 2015

Penulis Sukses: Jejak Pantun dan Syair



Penulis Sukses: Jejak Pantun dan Syair
Oleh Matdon
Di harian Kompas edisi 3 Mei 2015 halaman 27, saya membaca sebuah tulisan Maman S Mahayana berjudul Dinamika Pantun dan Syair. Dia mempertanyakan, ”Benarkah kini reputasi pantun seolah-olah terkubur dan digunakan sekadar untuk guyonan, ledek-ledekan atau dikatakan Matdon: nyaris menjadi fosil sastra? Sesungguhnya tidak juga begitu. Matdon mengambil contoh pantun profan(?). Meski dikatakannya dari mereka yang tak paham aturan, pantun tak mengenal dikotomi profan dan sakral. Sementara sinyalemen STA, saya tempatkan dalam konteks semangat zaman. Ketika itu, majalah Pujangga Baru memuat begitu banyak puisi para penyair kita yang dikatakan baru, modern, bebas, individualistik, penuh semangat, dan merefleksikan suara sukma”.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa pantun dan syair adalah jejak sastra lama, fungsi dan peranannya nyaris terlupakan, nyaris menjadi fosil sastra. Terdesak oleh kebutuhan sastra kontemporer, sastra industri, dan tetek bengek kemodernan. Meski nasibnya masih beruntung tidak seperti halnya gurindam dua belas, mantra, dan jenis puisi lama lainnya juga nyaris menjadi fosil sastra.Ada dua buku kumpulan pantun dan syair yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir ini, yakni buku kumpulan syair dan pantun Bual Kedai Kopi karya Suryatati Manan dan Martha Sinaga, dan buku kumpulan Pantun Asal2an Ala Bang Sofyan karya wartawan senior Sofyan Lubis.
Membaca Bual Kedai Kopi, di sana saya meliat gambaran estetika Melayu yang unik dan klasik serta memiliki daya tarik yang asyik. Lokalitas kata bual menggambarkan realitas tradisi masyarakat sejumlah daerah yang disebut sebagai warisan budaya Melayu (Riau, Jambi, Padang, dan lainnya); budaya ngobrol, sekadar bincang-bincang santai—membicarakan apa saja. Konsep kata bual pada awal judul buku ini membuat sastra memiliki pijakan sebab karya sastra yang ”menyadari” estetika lokal akan memperkaya bahasa Indonesia. Karena diakui atau tidak, saat ini pantun dianggap sebagai sastra lokal yang berkembang di sejumlah daerah tertentu saja, padahal pantun adalah ”teks/bahasa/sastra” lisan warisan nenek moyang hampir di seluruh Tanah Air. Artinya, bukan (lagi) sastra lokal meskipun pada akhirnya pantun di sejumlah daerah akan berbeda cara ungkapnya.
Milik Melayu. Pantun sering dianggap sebagai milik orang Melayu saja (orang awam menyebut Melayu adalah orang yang lahir dan hidup di luar Pulau Jawa). Padahal istilah bahasa Melayu mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan di seluruh wilayah Nusantara dan di Semenanjung Melayu, bahasa Melayu sendiri menjadi bahasa resmi di Brunei, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Dan digunakan juga di Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Niugini. Karena pantun berasal dari sastra lisan dan seperti kebanyakan sastra lisan lainnya, pantun menjadi sangat ”istimewa” sehingga banyak yang menjadikan pantun sebagai bahasa yang susah dan rumit. Jangan heran kalau buku kumpulan pantun tak sebanding dengan lahirnya buku-buku puisi modern dan buku-buku puisi angkatan penyair Facebook.
Lalu pada buku pantun yang ditulis oleh wartawan senior H Sofyan Lubis berjudul Pantun Asal2an Ala Bang Sofyan terbitan PT Elfiendha Media Jakarta setebal 130 halaman, saya melihat kekacauan yang serius, halaman 6 buku ini tertulis pantun: Waktu kecil puasa disuruh/Waktu remaja puasa separuh/Patut kita membersihkan diri/Tolong maafi kesalahan kami (halaman 72).
Buku ini, menurut Bang Sofyan, diniatkan untuk ”memperpanjang” nyawa pantun agar disenangi kaum muda. Namun, apa jadinya jika buku ini kemudian tak memiliki konsep pantun yang benar. Saya kira, kesalahan konsep dalam pantun tidak lebih baik ketimbang pantun profan. Pembacaan pantun di acara-acara besar pernikahan, pertemuan budaya, dan atau pertemuan lainnya hanyalah sebagai pelengkap penderita. Saya jarang sekali menyaksikan pantun dibacakan secara improvisasi di sembarang tempat. Berbeda dengan puisi, di mana orang akan bebas membaca kapan dan di mana saja (bukan hanya pada acara resmi, sering saya saksikan dan lakukan di Bandung bersama kawan-kawan), walaupun sebetulnya puisi (modern) juga di acara formal hanya menjadi pelengkap acara.
Namun, sebenarnya beruntung pantun hingga saat ini masih banyak dipakai oleh kalangan muda meskipun penggunaannya hanya sekadar untuk main-main ataupun hiburan (paling tidak dalam lima tahun terakhir, baik di tayangan televisi maupun pergaulan sehari-hari), bahasa mereka pun disesuaikan kondisi zaman sekarang. Sakralitas pantun yang dilontarkan para pelawak secara spontan di tayangan televisi memang sudah rusak, tidak memperhatikan kaidah sampiran dan isi. Misalnya para pelawak sering berpantun ”Hei penonton…. Makan kentang di atas genteng bawa pistol, jangan mentang-mentang muka lu ganteng, padahal tiap hari lu cuma tukang dagang ikan jengkol”.

Ini tentu saja pantun ngaco, tapi pantun yang ada di televisi itu menjadi penanda bahwa pantun masih tetap ada dan disukai, lepas dari apakah mereka menyadari atau tidak bahwa pantun yang mereka pakai itu benar atau tidak, sebab yang mereka cita-citakan hanyalah tawa penonton. Dengan demikian, telah muncul fenomena pantun profan dan berkembang di pergaulan masyarakat modern. Meski pantun ”jenis baru” ini keluar dari pakem pantun, keberadaannya lebih komunikatif di kalangan anak muda. Bahkan sejalan dengan fungsi pantun pada dasarnya. Pantun profan ini kerap pula menjadi media komunikasi rekreatif yang menghibur.
Kelemahan pantun profan dalam pergaulan dan tayangan televisi adalah isinya tidak lagi berpuncak kepada nilai-nilai luhur budaya. Akibatnya, pantun menjadi barang mainan, kehilangan fungsi dan maknanya yang hakiki, yakni sebagai media untuk memberikan pengajaran serta pewarisan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Jadi fenomena pantun profan di sisi lain harus disyukuri, tapi di sisi lain hal ini merupakan realitas yang cukup memprihatinkan karena kegagalan mengomunikasikan nilai-nilai luhur dalam pembacaan pantun dan akan mereduksi pantun hanya sekadar permainan kata-kata dan hiburan penyemarak suasana.
Agak sulit jika fenomena ini dianggap sebagai sesuatu yang harus direvitalisasi, lalu siapa yang harus melakukan revitalisasi? Pemerintah atau sastrawan? Pemerintah tentu saja terlalu sibuk mengurus kekuasaan dan politik melebihi kesibukan para malaikat.Jika sastrawan harus melakukanrevitalisasi caranya seperti apa? Karena arus budaya bahasa tak mungkin bisa dibendung, bahasa adalah ruang paling wadag bagai manusia, ia tak mungkin bisa dilarang untuk tidak berkembang. Pertanyaan saya berlanjut, apakah suatu hari kelak fenomena pantun profan ini akan menjadikan pantun sebagai fosil sastra/bahasa akibat pengaburan identitas pantun itu sendiri? Dengan catatan bahwa sebuah peradaban yang dibangun tanpa berlandaskan kepada nilai-nilai kulturalnya adalah peradaban semu dan rapuh. (Sumber : Kompas, 9 Austus 2015)

Sabtu, 01 Agustus 2015

Penulis Sukses, 3 Jurnalis Menulis Buku untuk Perempuan Papua



3 Jurnalis Menulis Buku untuk Perempuan Papua



Tiga Jurnalis perempuan, yaitu ‎Nunung Kusmiaty (kiri) Nethy Dharma Somba (tengah), Katharina Janur Litasari (kanan)‎ yang menulis buku "Bukan Perempuan Biasa". [SP/ Roberth Vanwi] Tiga Jurnalis perempuan, yaitu ‎Nunung Kusmiaty (kiri) Nethy Dharma Somba (tengah), Katharina Janur Litasari (kanan)‎ yang menulis buku "Bukan Perempuan Biasa". [SP/ Roberth Vanwi]

      
Sejumlah perempuan Papua dinilai unik, sukses, dan menonjol dalam prestasi oleh 3 jurnalis perempuan Papua. Mereka yang disebut bukan perempuan biasa itu adalah Baetrix Wanane anggota KPU Papua, Berlinda Ursula Mayor Ketua Pengadilan Negeri Kelas IIB Wamena, Herlina Rosa Papare pendiri Sekolah Sepak Bola Bhineka Tunggal Ika, Hermina Kosay Instruktur Pre Apprentice Institue Pertambangan Nemangkawi Freeport. Selain itu, terdapat Lievelin Louisa Ansanay, Ketua DPRD Kota Jayapura, DR Margaretha Rumbekwan Direktur IPDN Kampus Papua, Octaviyanti Balndina Ronsumbre Pilot di PT Trigana Air Service, Olga Helena Hamad Ketua KontraS Papua, dan Shipora Puhili Tokoro Bidan Kampung.
Lalu ada Siti Nurdjaja Soltief, Kepala VCT RSUD Jayapura dan aktivis kesehatan, Suzana D Wanggai Kepala Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri Provinsi Papua, Tina Komangal wirausaha di Mimika, Yakoba Lokbere Anggota DPR Papua. Prof DR Yohana Susana Yembise Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan  juga masuk dalam daftar, dan tak ketinggalan Yosina Bosawer penjual sayur yang menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih.
Inilah  para perempuan  Papua  dengan sejumlah sepak terjangnya yang ditulis oleh 3 jurnalis  perempuan,  yaitu  Nethy Dharma Somba (The Jakarta Post) , Katharina Janur Litasari (KBR 68 H dan Nunung Kusmiaty  (Harian Papua Pos) dalam bukunya "Bukan Perempuan Biasa". Buku setebal 130 halaman itu, didesain oleh  Ridwan Bento  Manubun yang juga jurnalis, diluncurkan   Minggu (8/3) malam di Hotel Grand Talent Abepura. Nety Dharma Somba mengatakan, untuk menulis buku ini, mereka banyak menyesuaikan dengan waktu narasumber serta kesibukkan penulis sebagai jurnalis.  Menurut alumni Fakultas Sastra Indonesia, Jurusan Kesusateraan Universitas Hasanuddin itu, buku ini menjadi pembeda  karena mereka  ingin menunjukkan bahwa banyak perempuan Papua juga bisa berhasil dan sukses.
Menurut ibu dua orang anak ini, ketiga penilis bahagia dan terharu dengan terbitnya buku itu. "Selain kami sudah banyak meliput soal Tanah Papua yang penuh dengan segala gejolaknya, kami juga bisa menulis dan dedikasikan buku ini  kepada   perempuan Papua. Semoga buku ini memberikan inspirasi bagi semua perempuan Papua di mana saja berada," kata Nethy. Sedangkan Katharina Janur Lithasari menyampaikan, sejumlah narasumber dalam buku  ada yang dikenal langsung, ada yang diketahui lewat bincang-bincang dengan sejumlah teman. Buku bersampul kuning dengan gambar 15 orang perempuan Papua itu dikerjakan sejak Oktober tahun lalu.
"Kerja keras memang untuk menulis buku ini selain lakukan liputan, yah menulisnya harus nyicil," kata Lita yang bersuamikan juga seorang jurnalis. Ia berharap, buku ini dapat diterima semua kalangan.  "Banyak perempuan Papua yang hebat dan berprestasi hebat lain,  namun karena keterbatasan kami  baru menulis 15 perempuan ini. Mudah-mudahan kami bisa menulis perempuan-perempuan lain yang menjadi inspirasi bagi  rakyat Papua," kata Lita.

Sementara  Nunung Kusmiaty, perempuan yang mempunyai 5 orang anak ini, mengawali karier jurnalistiknya di Kota Bandung, Jawa Barat lewat SKM Galura grup Pikiran Rakyat pada 1990-an. Dia hijrah ke Kota Jayapura pada tahun 2000. "Menulis dan mengumpulkan bahan penulisan untuk buku memerlukan kesabaran. Saya bahagia buku ini bisa selesai, semoga buku ini menjadi warna lain dari buku-buku Papua yang sudah banyak beredar," katanya. Disinggung SP dari mana dana untuk membuat buku ini?  Ketiga  jurnalis perempuan ini tersenyum bersamaan. "Ini bantuan dari para relasi, aktifis yang ada di Kota  Jayapura dan juga dari kocek pribadi kami bertiga," kata  Nety Dharma Somba.

Ini pun diamin Katrina Lita dan  Nunung.  "Tak masalah  juga, namanya juga usaha jadi semua harus dijalanin untuk hadirnya buku ini. Terpenting kami  bahagia," kata Katharina Janur. [154/N-6,suara pembaruan , 9 Maret 2015)

Kamis, 16 Juli 2015

7 Tips Cara Menulis Novel Jadi Menarik



7 Tips Cara Menulis Novel Jadi Menarik        
Oleh Nulisbuku
http://nulisbuku.com/books/view_book/6707/rahasia-sukses-penulis-preneur-life-style-dot-com
 

Langkah awal sebelum memulai menulis adalah:

1. Tentukan tujuanmu, apakah kamu akan menulis sebuah cerpen, cerbung, flash fiction ataukah novel. Tentukan juga genre nya. Ada banyak genre yang dapat kamu pilih, bisa roman, misteri, fantasi, horor, dan masih banyak genre lainnya. Tulisanmu harus mampu meyakinkan pembaca. Caranya? Gambarkan latar belakang dengan baik dan tepat. Misalnya, bukan dengan menceritakan “Dia adalah orang yang jorok, ” tetapi dengan menggambarkan keadaan, misal: “Hal pertama yang menarik perhatianku adalah setumpuk sampah di pojok kamarnya”

2. Buatlah karakter yang “kuat” dan “nyata”. Gak sulit kok mendapatkan karakter: lihat saja orang-orang disekitarmu dan jadikanlah mereka karakter fiksimu.

3. Kenali juga karakter kalian, boleh kok kalian buat biodata masing-masing karakter. Misalnya, tokoh utama kalian adalah Rama. Buat biodatanya dari nama lengkap, tanggal lahir, hobinya, sifat-sifatnya, dll. Sehingga, dapat mempermudah kalian saat pengembangan ide cerita kalian nantinya. Bedakan antara karakter dewasa, remaja dan anak-anak. Masing-masing usia memiliki karakter alami yang tak bisa dihilangkan

4. Buat plot! Tentukan bagian2 penting dari fiksimu dari awal, klimaks hingga ending. Tanpa plot, fiksi kalian dapat mengalir entah kemana sehingga tak pernah mendapatkan ending nya. Cara membuat plot? Mudah. Gunakan saja mind map (peta pikiran). Bagian penting dari plot: pengenalan tokoh, pre-konflik, konflik, klimaks, post-konflik dan ending. 

5. Klimaks. Merupakan bagian paling penting dari sebuah cerita. Klimaks cerita menentukan seberapa berhasilnya karyamu! Pada klimaks,kita membangun partisipasi pembaca,untuk mampu berimajinasi bahkan berkeinginan untuk menjadi sang tokoh utama.

6. Yang tak kalah penting: Sudut pandang “point of view”. Ada sudut pandang orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Yang terpenting: Konsisten! Maksudnya konsisten adalah: gunakan satu sudut pandat dalam satu cerita, jangan bervariasi karena membuat pembaca bingung.

7. Jangan lupakan dialog antar tokoh dengan pas, kurang dialog akan membuat pembaca bosan. Sedangkan dialog yang berlebihan juga dapat membuat pembaca tidak memahami cerita kalian. Saat menulis dialog, perhatikan juga aksen bicara dan karakter si tokoh.

“Jika ada sebuah buku yang ingin kamu baca, tetapi buku itu belum ada, kamulah yang harus menulisnya.” ~ Toni Morrison